Selasa, 24 Desember 2013

PROFESI DAN PENDIDIKAN KEAHLIAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PENDAHULUAN
Teknologi Pendidikan merupakan suatu teori, bidang, dan profesi. Sebagai profesi Teknologi Pendidikan terbentuk dari usaha yang direncanakan secara sistematis (terorganisir) guna melaksanakan teori, teknik intelektual dan penerapan praktis Teknologi Pendidikan.
Melihat begitu banyaknya cakupan Teknologi Pendidikan, maka dalam makalah ini akan dibahas hal-hal yang berkenaan dengan Teknologi Pendidikan. Hal-hal tersebut adalah (1) definisi Teknologi Pendidikan, (2) pengertian dan karakteristik profesi, (3) pengertian profesi Teknologi Pendidikan, (4) fungsi profesi Teknologi Pendidikan, (5) tugas pokok Profesi Teknologi Pendidikan, (6) pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan, (7) organisasi profesi Teknologi Pendidikan, (8) kode etik Teknologi Pendidikan.
PEMBAHASAN
1.    Definisi Teknologi Pendidikan
Istilah teknologi muncul dari bahasa Yunani “Technologis”. Kata “technie” sendiri mempunyai arti seni, keahlian dan sains, sedangkan logos adalah ilmu. Gaibraith mengartikan teknologi sebagai penerapan yang sistematik dari pengetahuan ilmiah dan terorganisasikan pada hal-hal praktis. Dalam arti sempit teknologi pendidikan adalah media pendidikan, yakni teknlogi yang digunakan sebagai alat bantu dalam pendidikan supaya lebih efektif, efisien dan berhasil guna.
Sedangkan menurut (AECT) Association for Educational Communication and Technology, Teknologi Pendidikan adalah suatu proses yang kompleks dan terpadu denga melibatkan peralatan, ide, prosedur, orang dan organisasi untuk menganalisis permasalahan, menemukan problem solving, melakukan evaluasi serta mengelola pemecahan masalah yang berkaitan dengan semua aspek belajar manusia.

2.        Pengertian dan Karakteristik Profesi
Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah: sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus  dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama. 
Beberapa karakteristik dari profesi adalah adanya : (1) suatu teknik intelektual (2) aplikasi teknik tersebut, yang terkait dengan urusan praktis manusia (3) pelatihan dengan periode waktu yang lama, sebelum memasuki profesi tersebut (4) suatu perkumpulan anggota profesi yang tergabung dalam sebuah badan dengan satu komunikasi bermutu tinggi antar anggota anggotanya (5) satu rangkaian pernyataan kode etik dan standar yang disepakati (6) pengembangan teori intelektual dengan penelitian yang terorganisasi.
Dari enam karakteristik diatas maka Teknologi Pendidikan dapat digolongkan sebagai suatu profesi karena memiliki teknik intelektual , praktek aplikasi dari teknik tersebut, pelatihan dengan periode waktu yang panjang, asosiasi & komunikasi antar anggotanya ,kode etik & standar, teori intelektual & penelitian.

3.        Pengertian Profesi dan Posisi Teknologi Pendidikan
1). Pengertian Profesi Teknologi Pendidikan
Miarso (2004:96) mengartikan tenaga profesi teknologi pendidikan sebagai tenaga ahli dan atau mahir dalam membelajarkan peserta didik dengan memadukan secara sistemik komponen sarana belajar meliputi orang, isi ajaran, media atau bahan ajaran, peralatan, teknik, dan lingkungan.
Dalam AECT 1994 telah dirumuskan definisi teknologi pendidikan seperti telah disebutkan dalam latar belakang di atas bahwa: “Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar”.
Dari kedua definisi itu maka pengertian profesi teknologi pendidikan adalah tenaga ahli yang melakukan teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan serta menilai proses dan sumber untuk membelajarkan peserta didik.
2). Posisi Profesi Teknologi Pendidikan
Posisi profesi teknologi pendidikan tidak jauh dari pendidikan itu sendiri. Apabila dikaitkan definisi teknologi pendidikan menurut AECT 1994 dengan UU No. 20 Tahun 2003, maka tampak suatu hubungan yang jelas. Dalam AECT 1994 disebutkan bahwa “Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta penilaian proses dan sumber untuk belajar”. Ada beberapa kata dalam definisi di atas terdapat juga di dalam UU No. 20 Tahun 2003 atau yang mempunyai makna yang sama, yaitu pengelolaan, pengembangan dan pelayanan teknis dan semuanya itu tergolong sebagai tenaga kependidikan.

4.    Fungsi Profesi Teknologi Pendidikan
Dari membaca definisi teknologi pendidikan terlebih dahulu maka kita tahu fungsi dari profesi teknologi pendidikan yaitu sebagai suatu profesi yang mencarikan jalan keluar masalah belajar baik individu atau kelompok. Jalan keluar yang diberikan adalah berupa rancangan, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaaan, penilaian dan penelitian terhadap belajar. Selain itu profesi teknologi pendidikan juga sebagai pengembang sumber daya manusia.
Dengan demikian profesi teknologi pendidikan dapat menjadikan orang bertambah kreatif dalam kegiatan belajar sekaligus menjadikan orang bertambah cerdas baik dari jumlah orang yang cerdas maupun mutu dari kecerdasan itu sendiri. Dengan kecerdasan ini berarti akan meningkatkan nilai tambah seseorang sebagai sumber daya manusia, mengatasi masalah belajar baik individu ataupun kelompok, dan juga akan meningkatkan kinerja.



5.    Tugas Pokok Profesi Teknologi Pendidikan
Sama halnya dengan fungsi profesi teknologi pendidikan, tugas pokok profesi teknologi pendidikan ada kaitannya dengan definisi teknologi pendidikan. Kita harus tahu terlebih dahulu definisi teknologi pendidikan, dan selanjutnya membuat suatu rumusan lebih rinci masing-masing kalimat, dengan demikian akan tergambar jelas pokok pokok tugas profesi teknologi pendidikan.
Profesi teknologi pendidikan meliputi desainer, pengembang, pemakai, pengelola dan pengevaluasi, peneliti kegiatan belajar. Chaeruman (2008:2) mengatakan bahwa seorang sarjana teknologi pendidikan dapat menjadi profesi:
  1. Perancang proses dan sumber belajar dengan ruang lingkup pekerjaannya seperti merancang sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar
  2. Pengembang proses dan sumber belajar dengan ruang lingkup pekerjaannya seperti mengembangkan teknologi cetak, teknologi audiovisual, teknologi berbantuan komputer, dan sebagainya
  3. Pemanfaat atau pengguna proses dan sumber belajar dengan ruang lingkuperjaannya seperti memanfaatkan media pembelajaran, difusi inovasi pendidikan, implementasi dan institusionaliasasi model inovasi pendidikan, serta penerapan kebijakan dan regulasi pendidikan
  4. Pengelola proses dan sumber belajar dengan ruang lingkup pekerjaaannya seperti mengelola proyek, mengelola aneka sumber belajar, mengelola sistem penyampaian, dan mengelola sistem informasi pendidikan
  5. Pengevaluasi (evaluator) atau peneliti proses dan sumber belajar dengan ruang lingkup pekerjaannya seperti melakukan analisis masalah, mengukur acuan patokan, evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan meneliti kawasan pendidikan.
Selain itu tugas profesi teknologi pendidikan dikemukakan oleh Miarso (2004:70). Miarso menyebutnya sebagai tugas pokok teknolog pembelajaran atau perekayasa pembelajaran dengan tugasnya sebagai berikut:
  1. pengembangan bidang kajian dan kawasan teknologi/rekayasa pembelajaran
  2. perancangan dan pengembangan proses, sumber dan sistem pembelajaran
  3. produksi bahan belajar
  4. penyediaan sarana dan prasarana belajar
  5. pemilihan dan penilaian sistem dan komponen sistem pembelajaran
  6. pemanfaatan proses dan sumber belajar
  7. penyebaran konsep dan temuan teknologi pendidikan
  8. pengelolaan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar
  9. perumusan bahan kebijakan teknologi/ rekayasa pembelajaran.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat ditarik suatu rumusan tugas pokok profesi teknologi pendidikan seperti berikut ini.
1. Perancang (desainer): tugas ini meliputi mendesain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar. Desain sistem pembelajaran adalah prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah penganalisaan, perancangan, pengembangan, pengaplikasian dan penilaian pembelajaran. Desain pesan adalah perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan. Strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu pelajaran. Karakteristik pebelajar adalah segi-segi latar belakang pengalaman pebelajar yang berpengaruh terhadap efektivitas proses belajarnya (Seels dan Richey, 1994:30).
2. Pengembang (developer): tugas ini meliputi produksi dan penyampaian teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer dan teknologi terpadu. Contoh teknologi cetak adalah buku-buku, bahan-bahan visual yang statis atau fotografis. Teknologi cetak ini ada dua jenis yaitu teks verbal dan bahan visual. Teknologi audio visual adalah teknologi yang berkaitan dengan mekanik dan elektrik. Audio visual adalah gabungan dari audio (dengar) dan visual (lihat). Ada kemungkinan alat tersebut hanya audio saja dan ada pula kemungkinan audio visual. Sedangkan visual saja termasuk ke dalam teknologi cetak. Teknologi berbasis komputer adalah teknologi yang memanfaatkan komputer baik perangkat lunak maupun perangkat keras. Perangkat lunak berupa program-program komputer yang dapat menampilkan tayangan-tayangan pembelajaran. Sedangkan perangkat keras dapat berupa layar monitor, CPU, LCD, In focus, dan sebagainya. Dalam perkembangannya komputer merupakan alat untuk menampilkan internet, e-mail, dan sebagainya. Teknologi terpadu adalah paduan beberapa jenis media yang dikendalikan oleh komputer. Sebagai contohnya adalah video, film, telekomprens, dan sebagainya ( Seels dan Richey, 1994:30).
3. Pemanfaat/Pengguna (User): tugas ini meliputi pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan, dan kebijakan/regulasi. Pemanfaatan media merupakan penggunaan yang sistematis dari sumber untuk belajar. Difusi inovasi adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan tujuan untuk diadopsi. Implementasi adalah penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasikan), sedangkan pelembagaan adalah penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi ( Seels dan Richey, 1994:30).
4. Pengelola (Manager), tugas ini meliputi pengelola proyek, pengelola sumber, pengelola sistem penyampaian, dan pengelola informasi. Pengelola proyek meliputi merencanakan, memonitor dan pengendalikan proyek desain dan pengembangan. Pengelola sumber meliputi merencanakan, memantau, dan mengendalikan pendukung dan pelayanan sumber. Pengelola sistem penyampaian merupakan kegiatan merencanakan, memantau, dan mengendalikan ”cara bagaimana distribusi bahan pembelajaran diorganisasikan”. Sedangkan pengelola informasi adalah merencanakan, memantau dan mengendalikan cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemprosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar ( Seels dan Richey, 1994:30).
5. Penilai (Evaluator), tugas ini meliputi menganalisis masalah, mengukur yang beracuan patokan, menilai secara formatif dan sumatif. Analisis masalah merupakan kegiatan penentuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pengumpulan informasi dan pengambilan keputusan. Pengukuran acuan patokan adalah teknik-teknik untuk menentukan kemampuan pebelajar menguasai materi yang telah ditentukan sebelumnya. Penilaian formatif adalah pengumpulan informasi tentang kecukupan dan penggunaan informasi sebagai dasar pengembangan selanjutnya. Sedangkan penilaian sumatif berkaitan dengan pengumpulan informasi tentang kecukupan untuk pengambilan keputusan dalam hal pemanfaatan ( Seels dan Richey, 1994:30).
6. Peneliti (Researcher), tugas ini meliputi kegiatan penelitian yang berkaitan dengan teknologi pendidikan. Kegiatan penelitian ini mencakup penelitian dalam kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian
6.    Pendidikan Keahlian Teknologi Pendidikan
Untuk dapat berprofesi sebagai teknolog pendidikan, maka pendidikan yang harus ditempuh adalah jenjang perguruan tinggi melalui Program Studi Teknologi Pendidikan pada strata 1, 2, atau 3, tidak semua perguruan tinggi di Indonesia membuka program studi tersebut. Namun sekarang ini sudah banyak perguruan tinggi yang membuka program studi teknologi pendidikan baik strata satu, dua ataupun tiga. Ketiga strata pendidikan ini mempunyai kompetensi yang berbeda-beda.
Pendidikan keahlian Teknologi Pendidikan pada jenjang sarjana S1 ditujukan untuk penguasaan kemampuan :
1. Memahami landasan teori/riset an aplikasi teknologi pendidikan.
2. Merancang pola instruksional
3. Memproduksi media pendidikan
4. Mengevaluasi program dan produk instruksional
5. Mengelola Media dan sarana belajar
6. Memanfaatkan sarana,media,dan teknik instruksional
7. Menyebarkan informasi dan produk teknologi pendidikan
8.Mengoperasikan sendiri dan melatih orang lain dalam mengoperasikan peralatan audiovisual.

Pada Jenjang S2 kompetensi lulusan adalah sebagai berikut :
1.    Menerapkan pendekatan sistem dalam rangka pengembangan
pembelajaran, baik pada tingkat mikro/kelas maupun dalam konteks pendidikan maupun latihan.
2.    Merencanakan kurikulum, pemilihan strategi pembelajaran, serta penilaian pelaksanaannya.
3.  Merancang, memproduksi, dan menilai bahan bahan pembelajaran.
4.  Mengelola Lembaga sumber belajar.
5.  Melatih dan mendidik orang lain dalam berbagai aspek teknologi pendidikan.
6.  Menyebarkan konsep dan aplikasi teknologi pendidikan.

Sedangkan pada jenjang S3 adalah sebagai berikut :
1.  Mampu mengkaji dan menganalisis teori/konsep dan temuan
penelitian dibidang instruksional dan meramunya menjadi sutau teori/konsep pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik budaya Indonesia.
2. Mampu mengidentifikasikan dan mengkaji kebijakan pendidikan dan masalah pelaksanaannya, dan menselaraskannya dengan perkembangan IPTEK dan SOSEKBUD.
3. Mampu melaksanakan sendiri dan memimpin kegiatan penelitian dan pengembangan, baik untuk menguji teori instruksional, maupun menghasilkan inovasi dalam proses dan sistem pendidikan

7.    Organisasi Profesi Teknologi Pendidikan
Di Indonesia, tenaga profesi itu terhimpun dalam wadah Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia ( IPTPI ) yayng didirikan pada tanggal 27 September 1987. Dasar pertimbangan pendirian organisasai profesi adalah karena makin kompleksnya usaha pendidikan ( termasuk penyuluhan dan pembinaan ) sumber daya manusia, sehingga dirasa perlu adanya forum profesi untuk saling bertukar pengalaman, peningkatan kemampuan dan untuk menjaga keselarasan antara perkembangan IPTEK dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan belajar.
Visi dan misi
Dengan semangat kemitraan menjadi suatu lembaga yang tanggap dan tangguh dalam memberdayakan pemelajar ( learner ), melalui kegiatan merancang, mengembangkan, melaksanakan, menilai dan mengelola proses serta sumber belajar
Misi
IPTPI mempunyai misi memimpin, memberikan keteladan dan kepemimpinan dalam pengembangkan dan peningkatan profesionalitas para anggotanya, agar mereka mampu untuk memberdayakan peserta didik/warga belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi belajar, sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta kondisi dan lingkungan, sehingga peserta didik/warga belajar tersebut mampu menguasai kompetensi yang diperlukan, serta meningkatkan kinerja dan produktivitasnya.
Tujuan
Menghimpun sumber daya untuk menyumbangkn tenaga dan pikiran bagi pengembangan teknologi pendidikan sebagai suatu teori, bidang dan profesi di tanah air, bagi pembedayaan peserta didik/warga belajar serta kemanfaatannya bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Program
1. Menyebarkan konsep, prinsip dan prosedur teknologi pendidikan ke seluruh lembaga pendidikan dan pelatihan di Indonesia.
2. Menyebarkan aplikasi teknologi pendidikan kepada masyarakat dengan maksud agar tiap warga negara mendapatkan pengajaran seumur hidup, secara mustari dan cepat, yang mudah dicerna dan diresapi, yang memikat, dan pada tempat dan waktu yang tersebar, dengan memanfaatkan teknologi.
3. Mengusahakan dan membina identitas profesi teknologi pendidikan sebagai suatu lapangan pengabdian, dengan menunjukkan kepemimpinan dalam melaksanakan fungsi, tanggung jawab, jabatan dan kompetensi, sehingga memperoleh pengakuan dan pengukuhan dari pemerintahan dan masyarakat.
4.Bekerjasama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan dalam menyelesaikan masalah dalam pembelajaran
5.Bekerjasama dengan lembaga profesi dan pendidikan tinggi di dalam maupun di luar negeri, dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kinerja, serta menghindarkan adanya tumpang tindih dan pertentangan kepentingan.
8.    Kode Etik Profesi Teknologi Pendidikan
Kode Etik Profesi Teknologi Pendidikan Profesi Teknologi pendidikan bukanlah merupakan profesi yang bersifat netral; ia merupakan profesi yang memihak, yaitu memihak pada kepentingan si belajar, agar mereka memperoleh kemudahan untuk belajar. Penerapan teknologi pendidikan pasti mempengaruhi komponen-komponen lain dalam sistem pendidikan. Pengaruh ini pada gilirannya akan membawa akibat terhadap kelembagaan, dan tanggung jawab pendidikan. Seterusnya akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan.

Tujuan kode etik ini secara umum adalah :
1.melindungi dan memperjuangkan kepentingan peserta didik.
2.melindungi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara
3.melindungi dan membina diri serta sejawat profesi dan
4.mengembangkan kawasan dan bidang kajian teknologi pendidikan.
Dengan tersedianya tenaga terdidik dan terlatih dalam bidang Teknologi Pendidikan dan adanya organisasi profesi, maka secara konseptual akan terjamin usaha penerapan teknologi pendidikan dalam lembaga -lembaga yang menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran.Pembangunan sistem pendidikan di Indonesia hanya mungkin dapat terlaksana sesuai dengan harapan jika dipahami arti penting Teknologi pendidikan, sehingga peran dan potensinya dapat diwujudkan secara optimal.
KESIMPULAN
Profesi Teknologi merupakan profesi yang netral, yaitu memihak pada kepentingan si belajar, agar mereka memperoleh kemudahan untuk belajar. Penerapan teknologi pendidikan pasti mempengaruhi komponen-komponen lain dalam sistem pendidikan. Pengaruh ini pada gilirannya akan membawa akibat terhadap kelembagaan, dan tanggung jawab pendidikan. Seterusnya akan mempengaruhi ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan.
Dengan tersedianya tenaga terdidik dan terlatih dalam bidang Teknologi Pendidikan dan adanya organisasi profesi, maka secara konseptual akan terjamin usaha penerapan teknologi pendidikan dalam lembaga - lembaga yang menyelenggarakan kegiatan belajar dan pembelajaran.
Pembangunan sistem pendidikan di Indonesia hanya mungkin dapat terlaksana sesuai dengan harapan jika dipahami arti penting Teknologi pendidikan, sehingga peran dan potensinya dapat diwujudkan secara optimal.


DAFTAR PUSTAKA
Miarso, Yusufhadi. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Prawiradilaga, D.S., 2012. Wawasan Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
tugas_09.html (diunduh pada 6 desember 2013).

Minggu, 20 Oktober 2013

Landasan Teori Psikologi Sosial Teknologi Pendidikan



I.       PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang didalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik administror, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus menunjukkan perilaku secara efektif. Perilaku individu dipelajari  dalam suatu ilmu yang disebut sebagai psikologi.
Psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses pendidikan. Terutama dizaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Para ahli berusaha untuk meningkatkan mengajar itu menjadi suatu ilmu. Teknologi pendidikan memberikan pendekatan sistematis dan kritis tentang proses pembelajaran.  
Proses belajar merupakan orientasi teknologi pendidikan. aplikasi pengembangan teknologi pendidikan dalam proses belajar sangat dipengaruhi oleh ilmu perilaku(teori psikologi) adapun yang menjadi landasan teori psikologi antara lain psikologi perkembangan, psikologi pendidikan dan psikologi sosial yang berkaitan erat dalam proses pengembangan teknologi pendidikan. . Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas mengenai definisi landasan teori psikologi sosial dan bagaimana aplikasi teori psikologi sosial dalam teknologi pendidikan.

 2. PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial merupakan perkembangan Ilmu Pengetahuan yang baru, dan merupakan cabang dan Ilmu Pengetahuan Psikologi pada umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial, seperti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya; termasuk di dalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya.
Interaksi ini baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok dapat berjalan lancar dapat pula tidak. Interaksi akan berjalan lancar bila masing-masing pihak memiliki penafsiran yang sama atas pola tingkah lakunya, dalam suatu struktur kelompok sosial. Masing-masing pihak telah mempelajari rangsangan serta respons mana yang harus dipilih dan dihindarkan. Tingkah laku individu dalam lingkungan bermasyarakat atau lingkungan sosial akan dipelajari oleh psikologi sosial.
Definisi Psikologi Sosial dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu sebagai berikut :
1.      Menurut kamus paedagogik Psikologi sosial ialah ilmu jiwa yang mempelajari gejala-gejala psikis pada massa, bangsa, golongan, masyarakat dan sebagainya.
2.      Hubert Bonner dalam bukunya Social Psychology mengatakan  Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia. Di sini Bonner lebih menitikberatkan pada tingkah laku individu, bukan tingkah laku sosial. Tingkah laku itulah yang pokok, yang menjadi sasaran utama dalam mempelajari psikologi sosial.
3.      A.M Chorus dalam bukunya Grondsiagen der sociale Psychologie merumuskan Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
Dalam rumusan ini Chorus menekankan adanya tingkah laku individu dalam hubungannya sebagai anggota masyarakat.
4.      Sherif & Sherif dalam bukunya An Outline of Social Psychology memberikan definisi Social psychology is the behavior of the individuals in relation to social stimulus situasions. Psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman dan tingkah laku individu manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi perangsang sosial.
5.      Roueck and Warren dalam bukunya Sociology mendefinisikan psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari segi-segi psychology daripada tingkah laku manusia yang dipengaruhi oleh interaksi sosial.
6.      Boring, Langveld, Weld dalam bukunya Foundations of Psychology mengutarakan psikologi sosial ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari individu manusia dalam kelompoknya dan hubungan antara manusia dengan manusia.
7.      Kimball Young (1956):
Psikologi sosial adalah studi tentang proses interaksi individu manusia.
8.      Krech, Crutchfield dan Ballachey (1962):
Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku individu di dalam masyarakat.
9.      Joseph E. Mc. Grath (1965):
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang menyelidikitingkah laku manusia sebagaimana dipengaruhi oleh kehadiran, keyakinan, tindakan dan lambang-lambang dari orang lain.
10.  Gordon W. Allport (1968):
Psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang  berusaha mengerti dan menerangkan bagaimana pikiran, perasaan, dan tingkah laku individu dipengaruhi oleh kenyataan, imajinasi, atau kehadiran orang lain.
11.  Secord dan Backman (1974):
Psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari individu dalam konteks sosial.
12.  W.A. Gerungan:
“Ilmu jiwa adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menyelidiki pengalaman dan tingkah laku individu manusia seperti yang dipengaruhi atau ditimbulkan oleh situasi-situasi sosial.
Psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikolgi seseorang dalam masyarakat, yang mengombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk  mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu( Hollander dalam Pidarta, 2009.hal 219).
Penelitian awal dibidang psikologi sosial oleh Badura. Menurut A,Badura, belajar lebih sekedar perubahan perilaku. Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan perilaku yang didasari oleh pengetahuan tersebut. Lewat teori observational learning, Badura beranggapan bahwa proses psikologi terlau dianggap penting atau sebaliknya hanya ditelaan sebagian aja. Prinsip belajar menurut Badura adalah usaha menjelaskan belajar dalam situasi alami. Hal ini berbeda dengan situasi di laboratorium atau pada lingkungan sosial yang banyak memerlukan pengamatan tentang pola perilaku beserta konsekuensinya. Diperoleh perilaku yang kompleks bukan hanya disebabkan oleh hubungan dua arah antara pribadi dengan lingkungan melainkan hubungan tiga arah antara perilaku-lingkungan-peristiwa batinia. Contohnya seorang yang telah berlatih akan timbul perasaan percaya diri. Perilakunya menimbulkan reaksi baru, yang pada akhirnya mempengaruhi kepercayaan dirinya yang kemudian menimbulkan perilaku berikutnya dan dapat melukiskan perilaku yang baru itu, meskipun dia tidak melakukannya.
Badura meyakini bahwa belajar membutuhkan situasi alami natural. Ia berpendapat bahwa anak kecil meniru apa yang ada disekitar mereka sebagai bagian dari proses belajar mereka. Melalui penerapan, pengetahuan atau kemampuan ini menjadi bagian dari kode internal. Didalam ruang kelas, perspektif psikologi sosial mungkin terlihat sebagai konskuensi dari perilaku tertentu yang ditampilkan oleh kelompok. Sebagai misal jika seseorang berbicara melebihi gilirannya maka aturan kelas mengingatkan bahwa siswa tersebut akan melampaui periode jeda. Atau, contoh lainnya adalah “Tingkatan Bintang Emas”, didalam ruang kelas yang menampilkan nama-nama siswa dengan bintang-bintang karena keberhasilan menyelesaikan tugas. Kedua jenis situasi ini membantu para siswa untuk mengamati perilaku yang tepat yang diharapkan atas diri mereka dalam situasi belajar.
Penelitian awal dibidang psikologi sosial oleh Badura dan Vygotsky mengindikasikan mereka mengalami kesulitan memahami bagaimana behavioris bisa mengabaikan keadaan sosial atau lingkungan di sekitar pembelajar. Keduanya berpendapat pembelajar tidak belajar dalam lingkungan yang terisolasi atau terpisah dari pembelajar lainnya. Vygotsky menyakini bahwa proses kognitif terus berubah dan mempengaruhi perkembangan pemikiran yang lebih tinggi pada individu. Ia menyakini bahwa tingkat pemikiran ini merupakan bentuk penalaran kultur atau berpikir seperti orang-orang yang ada disekitar para siswa. Dengan kata lain orang-orang masyarakat mempengaruhi cara berpikir dan belajar para siswa dan pengaruh ini berbeda-beda menurut masyarakat dan kelompok kulturnya.
Salah satu contoh bagaimana gagasan badura cocok dengan situasi ruang kelas adalah seorang guru mencontohkan penggunaan fitur “Tracking” dan “Insert comments” dari MS Word untuk menyunting makalah siswa. Guru berbicara tentang apa yang sedang ia dikerjakan sementara para siswa menyimak keterampilan yang sedang dicontohkan untuk mereka. Setelah menampilkan kepada para siswa proses menambahkan perubahan dan menyelipkan komentar, para siswa kemudian diberikan pengalaman langsung di mana  bisa mempraktikkan keterampilan ini sambil dipandu oleh guru. Guru bisa memeriksa suntingan makalah ini para siswa dan memberikan umpan balik tambahan terkait dengan seberapa baik pekerjaan para siswa dalam mempelajari keterampilan baru ini.

B. OBJEK DAN METODE PSIKOLOGI SOSIAL             
1. Objek Psikologi Sosial
Objek psikologi adalah manusia dan kegiatan-kegiatannya, sedang objek psikologi sosial adalah kegiatan-kegiatan sosial atau gejala-gejala sosial.
Alfred Adler, seorang ahli psikologi berhasil membina psikologi yang disebut individual psikologi yang menjelaskan bahwa jiwa manusia adalah suatu kesatuan, sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, dan mereaksi lingkungan juga secara keseluruhan dengan individu yang satu berbeda dengan individu yang lain. Di samping itu manusia sebagai makhluk individual tidak hanya dalam arti makhluk keseluruhan jiwa raga, melainkan juga merupakan pribadi yang khas.
G.W. Allport menyatakan “ Kepribadian adalah organisasi dinamis daripada sistem-sistem psycho-physik dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang unik/khas dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila individu yang satu dibandingkan dengan individu yang lain, akan Nampak perkembangan yang berbeda-beda, walaupun keadaan kehidupannya sama. Bahkan antara 2 individu yang berketurunan sama, atau anak kembar yang berasal dari satu telur, toh kegiatan-kegiatannya masih terdapat perbedaan.
R.S Woodworth dalam bukunya psychology sependapat dengan Allport. Manusia sejak lahir sampai mati selalu hidup di dalam masyarakat. Tidak mungkin manusia itu hidup sebagai manusia yang normal, apabila ia hidup di luar masyarakat. Jelaslah bahwa manusia tidak mungkin  dapat hidup dengan baik tanpa mengadakan hubungan dengan manusia lain, baik hubungan maupun pergaulan dengan orang tuanya, teman sebaya atau kelompok-kelompok sosial yang lain.

2. Metode Psikologi Sosial
Metode yang dipakai dalam psikologi sosial pada dasarnya sama dengan metode-metode psikologi. Metode-metode tersebut antara lain :
a.       Metode Eksperimen
Metode ini dipakai pertama kali oleh Wilhelm Wundt. Agar metode ini dapat mencapai hasil yang dapat dipertanggung-jawabkan, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
-          Kita harus dapat menentukan waktu terjadinya gejala yangt ingin kita selidiki.
-          Kita harus dapat mengikuti berlangsungnya gejala yang ingin kita selidiki, dan harus mengamatinya dengan perhatian yang khusus.
-          Tiap-tiap pengamatan/observasi harus dapat kita ulangi dalam  keadaan yang sama.
-          Kita harus dapat mengubah-ubah dengan sengaja syarat-syarat keadaan eksperimen.
Metode eksperimen dimaksudkan untuk menyelidiki suatu gejala dengan perhatian yang khusus, sehingga dapat memperoleh keterangan yang lebih mendalam tentang gejala tersebut.
b.      Metode Survey
Metode ini biasanya digunakan untuk mengumpulkan keterangan mengenai kelompok tertentu yang ingin diselidiki. Dalam pelaksanaan, biasanya dengan menggunakan wawancara, observasi atau angket sebagai alat untuk mengumpulkan keterangan-keterangannya.
c.       Metode Observasi
Yaitu suatu cara untuk mengumpulkan keterangan-keterangan yang diinginkan dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung. Dalam hal ini penyelidik melaksanakan penyelidikannya dengan panca indera secara aktif, terutama penglihatan dan pendengarannya.
Menurut Pauline V. Young observasi diartikan observation is a systematic and deliberate study throught the eyes of spontaneous accurrences at they accur. The purposeof observation is to percive the nature and extent of significant interlatedelement with complex social phenomena culture patterns or human conduct.
Jadi observasi merupakan suatu penyelidikan  yang dijalankan secara sistematis, dan dengan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera (terutama mata) terhadap kejadian-kejadian yang langsung ditangkap pada waktu kejadian itu terjadi. Ini berarti bahwa observasi tidak dapat digunakan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat. Oleh karena dalam observasi menggunakan indera, maka hasil observasi menjadi baik, salah satu hal yang dituntut ialah menggunakan alat indera dengan sebaik-baiknya.

C. APLIKASI LANDASAN TEORI PSIKOLOGI DALAM TEKNOLOGI PENDIDIKAN
           Lumsdaine berpendapat bahwa ilmu perilaku, khususnya teori belajar, merupakan ilmu yang utama untuk memperkembangkan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakan aplikasi teknologi perilaku yaitu menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik guna keperluan pembelajaran (Miarso, 2011 : 111).
          Dalam pengembangan teknologi pendidikan yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta didik, maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan teknologi pendidikan. Perkembangan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara / metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal, dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar
           Selain itu aplikasi psikologi sosial dalam teknologi pendidikan adalah yang menyangkut dengan aspek-aspek perilaku dalam ruang lingkup belajar mengajar. Secara psikologis, manusia adalah mahluk individual namun juga sebagai makhluk social dengan kata lain manusia itu sebagai makhluk yang unik. Maka dari itu kajian teori dalam psikologi dalam Teknologi pendidikan seharusnya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaan serta karakteristik-karakteristik individu lainnya. Dan strategi belajar seperti itu terdapat dalam kajian ilmu Teknologi Pendidikan.
           Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaplikasian teori psikologi terhadap teknologi pendidikan sangat erat karena dalam membuat strategi belajar dan untuk mengetahui tehnik belajar yang baik maka terlabih dahulu kita sebagai guru harus mengerti ilmu jiwa.
Lima Hubungan Dalam Aplikasi Psikologi Sosial Dalam Situasi Pembelajaran
Psikologi pembelajaran yang terjadi di sekolah, ketertarikan antar pribadi, memegang peranan penting dalam menerangkan tingkah laku. Dalam hal ini seorang guru yang mengajar dengan cara yang sama tetapi memperoleh hasil yang berbeda dapat diterangkan bahwasanya latar belakang masing-masing murid yang terikat dalam satu ikatan kelas itu berbeda satu sama lain, baik orientasi, kepribadian maupun latar belakang yang lain. Pengaruh lingkungan yang berbeda akan menghasilkan tingkah laku murid yang berbeda pula. Jelaslah lingkungan di mana berlangsung proses pembelajaran itulah kiranya dapat menerangkan mengapa guru memperoleh hasil yang berbeda meskipun mengajar dengan cara yang sama. Tingkah laku secara individual di dalam lingkungan pendidikan merupakan situasi yang memerlukan perhatian para ahli psikologi sosial, meskipun psikologi sosial itu sendiri secara relative merupakan ilmu pengetahuan yang masih muda. Banyak hal-hal dalam dunia pendidikan yang perlu diteliti oleh para ahli psikologi sosial dan ini sangat membantu dan bermanfaat bagi para pendidik dalam memahami tingkah laku anak didiknya. Ada lima model hubungan dalam aplikasi psikologi sosial dalam situasi pembelajaran yaitu.
1.   Getzels dan Thelen
Pada tahun1960 Getzels dan Thelen menulis tentang aplikasi psikologi sosial terhadap situasi pembelajaran yang berguna dalam mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku belajar di kelas. Pendekatannya didasarkan pada pengujian tingkah laku individual di dalam hubungan kelompok. Kelompok kelas ini dilihat tujuannya, peserta atau anggotanya ke pemimpinnya, hubungan terhadap kelompok lain, sebagai satu cara yang penting untuk menyelidiki bagaimana kelas sebagai suatu kelompok mempengaruhi tingkah laku anggotanya. Di samping itu cara ini dikembangkan untuk melukiskan bahwa kelompok kelas merupakan sistem sosial yang terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Getzels dan Thelen mengajukan model sebagai berikut :
                        B = f  (R x P)
Keterangan :
                        B = tingkah laku yang diamato
                        R = pengharapan peranan dalam satu situasi
                        P = personality atau kepribadian individu yang dibatasi oleh kebutuhan
Konsep yang dikembangkan Getzels dan Thelen ini khususnya berguna di dalam mengorganisasi pengaruh sosial dan tingkah laku individu di dalam suatu kelompok kelas. Mereka menunjujjan bagaimana kepribadian saling berhubungan dengan pengaruh lembaga atau intuisi. Kuatnya model ini adalah pada dinamika perubahan sistem sosial yang mempengaruhi tingkah laku dan organisasi dan banyak faktor yang membantu dalam proses ini.
2.   Brookover
Wilbur Brookover dan Edsel Erickson mengembangkan konsep psikologi sosial formal tentang belajar pertama. Ada tiga dasar teorinya yaitu.
a.       Tingkah laku pengambilan keputusan yang disengaja adalah fungsi dari hasil pengamatan kegiatan sosial.
b.      Hasil pengamatan kegiatan sosial berbeda dari hasil yang diinginkan sebagai faktor pembuatan keputusan, meskipun aspirasi dan rencana dalam waktu yang sama bisa sama untuk seorang individu, cognisi dan afeksi ini akan menjadi berbeda di dalam isi dan fungsinya.
c.       Jika tingkah laku yang disengaja adalah fungsi dari aspirasi, aspirasi ini cenderung mempengaruhi seseorang mengenai harapan yang bisa terjadi untuk masa yang akan datang.
Brookover dan Erickson mengidentifikasi adanya 4 faktor utama yang mempengaruhi bagaimana interaksi antar pribadi membentuk konsep diri, dan akhirnya proses pembuatan keputusan itu menentukan tingkah laku.
1.      Keperluan peranan untuk diri sendiri
2.      Konsep diri tentang kecakapan
3.      Nilai instrumental diri
4.      Nilai intrinsic dirinya
Secara singkat model ini mengorganisasi kekuatan psikologi sosial yang mempengaruhi tingkah laku belajar. tingkah laku tergantung pada proses kognitif dari pembuatan keputusan.
3.   Bandura
Karya yang sangat terkenal dari Bandura menempatkan suatu interpretasi yang lain pada interaksi seseorang dengan situasi. Bandura menghubungkannya dengan teori belajar sosial, suatu pendekatan yang melihat tingkah laku sebagai interaksi timbal balik yang terus menerus antara seseorang dan lingkungan. Bandura mengidentifikasikan 4 kategori pengaruh sebagai faktor yang menentukan hakikat dan akibat dari gejala peniruan.
a.       Kategori yang pertama ini melibatkan perhatian, bagaimana kuatnya perangsang model ini diamati.
b.      Kategori yang memusatkan pada kegiatan ingatan dari tingkah laku yang diamati.
c.       Komponen ini memusatkan bagaimana penyajian secara simbolik itu mengubah tingkah laku.
d.      Kategori ini meliputi faktor motivasi dan penguatan

4.   Rotter
Julian Rottter (1954) telah mengkombinasikan 2 kecenderungan di dalam psikologi, teori hubungan Stimulus-Respon (S-R) dari teori cognitive atau Field Theory, untuk mengembangkan suatu teori belajar sosial dan kepribadian yang berbeda dengan Bandura. Rotter berpendapat bahwa ada 3 faktor di dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi berbagai pilihan tingkah laku individu :
a.       Expextancy
b.      Reinforcement Value
c.       Psychological situation
5.   Mischel
Walter Mischel mengusulkan satu teori belajar sosial cognitive, satu pendekatan unit dasar studi yang bergeser dari individu ke kegiatan cognitive dan psikologi sosial ke konsep tingkah laku di dalam hubungannya dengan interaksi seseorang dengan situasi.
Secara lebih khusus ia mengusulkan 5 kategori variable seseorang yang membatasi bagaimana seseorang menerima dan mempersatukan perangsang di dalam lingkungan untuk membangtu menerangkan tingkah laku.
a.       Kemampuan penyusunan, kecakapan menyusun (menghasilkan) cognisi dan tngkah laku tertentu.
b.      Menyusun strategi dan membentuk pribadi.
c.       Harapan hasil tingkah laku dan hasil stimulus di dalam situasi tertentu.
d.      Nilai stimulus yang subjektif.
e.       Sistem pengaturan diri dan perencanaan. 
KESIMPULAN
Psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya Ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses pendidikan. Terutama dizaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Para ahli berusaha untuk meningkatkan mengajar itu menjadi suatu ilmu. Teknologi pendidikan memberikan pendekatan sistematis dan kritis tentang proses pembelajaran.  
Proses belajar merupakan orientasi teknologi pendidikan. aplikasi pengembangan teknologi pendidikan dalam proses belajar sangat dipengaruhi oleh ilmu perilaku(teori psikologi) adapun yang menjadi landasan teori psikologi antara lain psikologi perkembangan, psikologi pendidikan dan psikologi sosial yang berkaitan erat dalam proses pengembangan teknologi pendidikan.
Psikologi sosial merupakan perkembangan Ilmu Pengetahuan yang baru, dan merupakan cabang dan Ilmu Pengetahuan Psikologi pada umumnya. Ilmu tersebut menguraikan tentang kegiatan-kegiatan manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial, seperti situasi kelompok, situasi massa dan sebagainya; termasuk di dalamnya interaksi antar orang dan hasil kebudayaannya.
           Aplikasi psikologi sosial dalam teknologi pendidikan adalah yang menyangkut dengan aspek-aspek perilaku dalam ruang lingkup belajar mengajar. Secara psikologis, manusia adalah mahluk individual namun juga sebagai makhluk social dengan kata lain manusia itu sebagai makhluk yang unik. Maka dari itu kajian teori dalam psikologi dalam Teknologi pendidikan seharusnya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaan serta karakteristik-karakteristik individu lainnya. Dan strategi belajar seperti itu terdapat dalam kajian ilmu Teknologi Pendidikan.
           Jadi dapat disimpulkan bahwa pengaplikasian teori psikologi terhadap teknologi pendidikan sangat erat karena dalam membuat strategi belajar dan untuk mengetahui tehnik belajar yang baik maka terlabih dahulu kita sebagai guru harus mengerti ilmu jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2009.  Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Miarso, Yusufhadi., 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Syah, Muhibbin., 2009. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Amarlis, 2013 .  Landasan Teori Psikologi. http://blogmarlis.blogspot.com/2013/05/makalah-landasan-teori-psikologi.html. diakses pada tanggal 07 Oktober 2013.





By :
Free Blog Templates